Friday, August 28, 2009

Jasa Buat Ijazah Palsu

Kamu butuh ijazah palsu? Kamu butuh ijazah s1?


Kami bisa bantu anda kalau anda mau buat ijazah palsu atau beli ijazah palsu tapi asli..


Silakan ke Beli Ijazah - http://beli-ijazah.webs.com


Sekarang benar2 gampang untuk beli ijazah


Wednesday, August 26, 2009

Mari Beli Ijasah Palsu Tapi Asli

Ijazah palsu tapi asli dan terdaftar di kopertis dan kampus itu benar-benar gampang untuk dipesan..


Dengan jasa pembuatan ijazah s1 s2 yang palsu tapi asli yang ditawarin oleh Beli Ijazah Palsu , kita bisa dapatkan ijazah dengan cepat dan murah! Silakan ke http://beli-ijazah.webs.com sekarang!


Sunday, August 23, 2009

Ijazah Palsu

Anda butuh ijazah palsu? Anda harus beli ijasah? Anda mau ijazah palsu yang asli terdaftar di kopertis dan kampus?


Silakan ke Beli Ijasah sekarang!


Kuliah cepat untuk beli Ijazah s1

Alasan Beli Ijazah Palsu:

Kenapa pilih untuk beli ijazah? Alasannya adalah untuk kelancaran kehidupan anda dan membantu anda mendapatkan kerja yang anda impikan! Anda akan menghemat duid dan banyak hal lagi. Anda juga bisa segera mewujudkan cita-cita serta meraih posisi yang diinginkan di tempat kerja anda. Ada Diantaranya Adalah :
  1. Tidak harus kuliah dan hemat waktu!
  2. Pasti tidak akan mengganggu aktifitas anda yang sudah super-sibuk
  3. Biaya lebih murah dari Kuliah biasa
  4. Ijazah atau sertifikat sama legalnya dengan kuliah yang biasa
  5. Dapat segera meraih posisi atau jabatan yang dikehendaki
  6. Bersiap-siap untuk segera naik jabatan atau pangkat di tempat kerja anda
Jadi tunggu apa lagi? Silakan ke  Beli Ijazah di http://beli-ijazah.webs.com

Beli Ijazah Palsu atau Buat Ijasah Palsu?

 
 

Kami menjual ijazah palsu tapi asli dan bisa buat ijasah palsu yang asli terdaftar di kopertis dan kampus



Pada zaman sekarang, kalau mau lamar kerja atau ikut CPNS aj kita harus punya ijazah s1 atau minimal D3..
tapi pada kenyataan, tidak semua orang mampu kuliah untuk dapatkan ijazah sarjana..


Kami bisa bantu anda dengan membuat ijazah s1 atau s2 yang palsu, tapi asli dan terdaftar di kopertis dan universitas.. untuk kelancaran hidup dan untuk mendapat pekerjaan.. silakan ke BELI IJAZAH - http://beli-ijazah.webs.com sekarang untuk mendapatkan ijazah s1 atau s2 anda!


Bisa email ke jasapembuatandokumenaspal@yahoo.com juga!


Friday, August 14, 2009

Beli Ijazah Palsu Bali Hotels Bali Beach Balinese Backlink

Beli Ijazah Buat Ijasah Jual Ijazah Jasa Duplikat Ijazah Ijazah Palsu Backlink


Beli Ijazah Kuliah Online Kuliah Cepat Buat Ijasah Palsu Jasa buat ijazah
Buat Beli Ijazah S1 Palsu Asli Resmi
Beli Ijazah Beli Ijasah Ijazah Palsu
Beli Ijazah Palsu Jasa Ijasah Palsu S1 S2

Bali Hotels Kuta Hotels Bali Kuta Bali Villa Backlink


Bali hotels kuta hotels bali kuta hotels villa
Bali Hotels
Bali Beach Kuta Beach Bali Kuta

Balinese Backlink


Balinese Bali Woman


reBlog from universitaspendidikanindonesia: Bali Hotels And Bali Beach Hotel Reviews With Infos On Hotels In Bali and Bali Hotel.

I found this fascinating quote today:



These are two towns on the main surfing and party beach, and there is no longer a border or distinction between the two. This is the most popular area for surfers, backpackers, and other budget travelers, but in a way it’s the least magical part of Bali Kuta Beach. It’s worth seeing and maybe spending a night or two in this area, but by all means you should stay elsewhere as well, hopefully early in your trip so you can see the real Bali.universitaspendidikanindonesia, Bali Hotels And Bali Beach Hotel Reviews With Infos On Hotels In Bali and Bali Hotel., Aug 2009



You should read the whole article.

Wednesday, August 12, 2009

Ijazah Palsu

Beli Ijasah Asli Dengan Gampang!



Ijazah Palsu Terdaftar Di Kopertis dan Universitas



Anda mau kuliah kilat dan instan? Beli ijasah instan? Kunjungi Beli Ijazah S1 S2 Palsu Tapi Asli | Beli-Ijazah.webs.com sekarang di http://beli-ijazah.webs.com !


Beli Ijazah Palsu

Anda butuh Ijazah D3 S1 S2? Kita bisa membantu anda dapatkan Ijazah dari PTS/PTN yang sudah dapat AKREDITASI dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT).....
IJAZAH DIJAMIN TERDAFTAR DI KOPERTIS & UNIVERSITAS. BISA KULIAH CEPAT DI IPB, ITB, UGM, UI DAN PTS YANG LAEN..

S1 = Rp 12,500,000 - Rp 17,500,000* (Tergantung Universitas & Jurusan)
S2 = Rp 18,000,000 - Rp 25,500,000* (Tergantung Universitas & Jurusan)
D3 = Rp 8,500,000 - Rp 12,000,000* (Tergantung PTS & Jurusan)

HARGA D3/S1/S2 ADALAH UNTUK PAKET KELULUSAN & IJAZAH YANG ASLI, RESMI & TERDAFTAR DI PTS/UNIVERSITAS BERSANGKUTAN DAN DI KOPERTIS/DIKTI/DEPDIKNAS. 

Sertifikat TOEFL = Rp 2,500,000
Ijazah SMA = Rp 5jt

Kenapa Beli Ijazah?:

Kenapa pilih untuk beli ijazah? Alasannya adalah untuk kelancaran kehidupan anda dan membantu anda mendapatkan kerja yang anda impikan! Anda akan menghemat duid dan banyak hal lagi. Anda juga bisa segera mewujudkan cita-cita serta meraih posisi yang diinginkan di tempat kerja anda. Ada Diantaranya Adalah :
  1. Tidak harus kuliah dan hemat waktu!
  2. Pasti tidak akan mengganggu aktifitas anda yang sudah super-sibuk
  3. Biaya lebih murah dari Kuliah biasa
  4. Ijazah atau sertifikat sama legalnya dengan kuliah yang biasa
  5. Dapat segera meraih posisi atau jabatan yang dikehendaki
  6. Bersiap-siap untuk segera naik jabatan atau pangkat di tempat kerja anda
Jadi tunggu apa lagi? Silakan email ke JasaPembuatanIjazah@ymail.com sekarang juga!

Bali Beach

Bali Hotels
Kuta Bali
Bali Beach Hotels
Bali Beach
Beli Ijazah
Ijazah Palsu
Balinese In Indonesia

Tuesday, August 11, 2009

Ijazah S1 Minimal Untuk Menjadi Presiden?

Presiden Indonesia Harus Ada Ijazah S1?



Teman saya mencandai keponakannya, “Ngapain kamu repot-repot ngelamar ke Pertamina? Jadi presiden aja lebih gampang, nggak perlu sarjana, nggak perlu bisa inggris, asal bisa baca-tulis.” Tapi dia menimpali, “Yang doktor agroekonomi saja masih ruwet ngurusin pertanian, trus, apa yang bisa diharapkan dari yang belum sarjana?”

Taufiq Kiemas berargumen, “Kalau di UUD 1945 aturannya begitu, ya mau bilang apa lagi. Tidak usah mengatur hal-hal kecil.” Mungkin beliau lupa bahwa UUD 1945 adalah strategic guide yang mengatur gambaran umum. Agak naif karena beliau mungkin lupa bahwa elemen strategis tersebut perlu diterjemahkan detil operasional, pengukuran, penilaian, dan pencapaiannya.

Terlepas dari tarik-ulur kepentingan politis di dalamnya, kecerdasan, wawasan, pengalaman, kedewasaan, maupun tanggung jawab seseorang memang tidak bisa diukur dari gelar akademisnya. Tapi di negeri ini, dimana sarjananya berlimpah ruah, tentu agak lucu ketika pemimpinnya cuma lulusan SMU — padahal harus memimpin rapat menteri dan staf ahli yang

rata-rata bergelar dengan Ijazah S1 S2 S3.

Agak lucu juga ketika pemimpin kita bertemu dengan presiden negara lain yang mayoritas bergelar master (S2). Apa kata anak ayam kepada induknya nanti?

Menurut saya wacana ini tidak mengada-ada. Toh andaikata Megawati seorang doktor, barangkali hal ini tidak akan menjadi kontroversi. Namun, simplifikasi capres yang “cuma” sehat jasmani dan rohani serta bisa baca tulis jelas melecehkan potensi besar bangsa ini. Tantangan bangsa ini ke depan sungguh mahaberat; dan hanya bisa dijawab oleh pemimpin dengan kompetensi yang cukup mumpuni dengan didukung aparatur yang kompeten dan suportif.

Secara umum, lulusan S1 umumnya cenderung mempunyai pola pikir yang lebih analitis dan terstruktur. Proses penalaran logis, pendewasaan diri, pengenalan terhadap wawasan yang lebih luas, hingga problem-solving dan decision making diajarkan di bangku kuliah.

Apalagi negeri ini masih punya banyak masalah. Dengan populasi terbesar keempat di dunia (222 juta penduduk) dan memiliki 17 ribu pulau yang tersebar, ekonominya hanya di urutan ke-23. Sementara birokrasinya ada di urutan keenam (rata-rata perlu 151 hari untuk mendirikan suatu perusahaan di Indonesia). Belum lagi tingkat pengangguran yang mencapai 10,3%, kalah jauh dari Singapura (2,6%), Malaysia (3,1%), dan bahkan Filipina (7,3%). Apakah bisa serta merta lulusan SMU memahami pengaruh inflasi dan suku bunga serta cara mengatasinya? Ini basic yang presiden perlu tahu, bukan sekadar menteri keuangan/perekonomian.

Secara psikologis, pintar secara akademis juga membanggakan dan bisa jadi contoh bagus buat rakyat. Bahwa untuk menjadi presiden tidaklah mudah. Bahwa untuk jadi presiden perlu belajar, kerja keras, meraih pendidikan tinggi yang memadai — tak sekadar modal dukungan sana-sini atau shortcut lewat jalan belakang. Juga agar standar kompetensi dan pendidikan di Indonesia lebih “terdengar” di luar.

Saya melihat bahwa presiden tak cuma jabatan politis, tetapi juga jabatan teknis. Sebagai pemegang jabatan politis, presiden perlu mendapat dukungan dari rakyat yang dipimpinnya. Namun sebagai pemegang jabatan teknis, presiden mutlak mempunyai kualifikasi yang mumpuni untuk me-manage negeri ini. Misalnya:

  • Beriman, bertakwa, taat beragama dan bermoral baik, serta memiliki kepribadian yang mulia.
  • Memiliki rekam jejak yang bersih dari korupsi, kolusi, nepotisme, dan tindakan cacat hukum lainnya.
  • Minimal sarjana, dari universitas terakreditasi dalam maupun luar negeri, serta berwawasan luas. Hal ini untuk memastikan bahwa ijazah diperoleh dari kegiatan belajar-mengajar yang baik dan berkualitas.
  • Sehat jasmani dan rohani, sehingga cukup mumpuni untuk menjalankan secara maksimal tugas-tugas kenegaraan yang jelas menguras fisik dan psikis.
  • Orang Indonesia asli, mencintai bangsa dan negara Indonesia, serta berwawasan membela kepentingan rakyat.
  • Bila perlu, skor TOEFL minimal 600 dan TPA minimal juga 600. Asumsinya, presiden mutlak menguasai bahasa pergaulan internasional. Skor TPA juga mencerminkan kemampuan verbal, kuantitatif, dan analitis seseorang.
  • Syarat-syarat tersebut nantinya tak cuma digunakan untuk calon presiden, melainkan diperluas juga untuk DPR, DPRD, DPD, atau bahkan untuk seluruh PNS.

Orang memang boleh membantah bahwa Bill Gates, yang drop-out kuliah, sukses menjadi orang terkaya di planet bumi. Namun orang mungkin lupa (tidak tahu?) bahwa di masa kecilnya Gates bisa menghafal puisi/lagu gereja dan memecahkan kode di kepanduan dalam sekejap. Gates juga sangat ahli dalam kalkulus dan algoritma, punya skor SAT 1950, hingga dia diterima di Harvard. Tentu bisa dibayangkan bagaimana sesungguhnya kemampuan akademis seorang Bill Gates, bukan?

Kedua, kita mungkin lupa bahwa kita hidup di masyarakat yang mengakui sistem pendidikan berjenjang. Di Amerika, masyarakatnya menganggap bahwa untuk menjadi seorang yang kredibel dan kompeten, tidak terlalu mempersoalkan pendidikan formal. Penghargaan di masyarakat timbul karena prestasi dan bukti, bukan karena atribut yang melekat di dalamnya. Sistem ini sudah baku sedemikian rupa sehingga setiap elemen masyarakat appreciate sekali dan tidak berusaha mencari shortcuts demi mendapat ketenaran dalam waktu singkat.

Di Indonesia, kita mengakui adanya strata pendidikan berjenjang sejak Sekolah Dasar (SD) hingga Doktor (S3) — dengan persyaratan tertentu dan tahapan-tahapan yang harus dilalui. Dengan persamaan standar tersebut, kita “tidak boleh” berargumen bahwa seseorang tidak harus S1 untuk jadi hebat. Ini menunjukkan bahwa seolah S1 tidak berguna dan bisa ditempuh secara asal — sesuatu yang sebenarnya tidak sejalan dengan sistem pendidikan kita.

Memang benar, banyak hal yang perlu dipikirkan dan dipersiapkan guna menyambut a nation’s leader. Memberikan batasan tingkat pendidikan tak bisa serta merta dianggap melanggar HAM karena menghilangkan hak seseorang untuk mencalonkan dirinya menjadi presiden. Jika demikian, maka boleh saja saya bilang bahwa syarat bertakwa kepada Tuhan YME juga melanggar HAM karena menghilangkan hak seorang atheis untuk menjadi capres. :D

Seorang pemimpin dengan latar belakang dan kompetensi tinggi secara umum diharapkan bisa memimpin negeri ini dengan lebih baik, dan secara khusus akan lebih menghargai pendidikan untuk kemajuan dan kesejahteraan rakyat. In addition, dinamika saat ini mutlak membutuhkan seorang yang visioner, mampu melihat dari luar kotak, menganalisis dari berbagai perspektif berbeda, untuk kemudian memformulasi dan mengeksekusi solusi komprehensif yang efektif dan efisien untuk rakyat.

Akhir kata, siapa saja memang berhak mempunyai obsesi menjadi presiden. Dalam jangka panjang, apabila aturan ini diterapkan, akan memberi pengaruh positif dalam kerangka memuliakan mayoritas rakyat Indonesia. Namun, memaksakan aturan tersebut ketika para elit politik sedang bersiap untuk Pemilu 2009 jelas menyiratkan adanya kepentingan jangka pendek di baliknya — sesuatu yang (maaf) nasty dan sangat tidak bijaksana.


Mari Kita Membeli Ijazah

Jual-Beli Ijazah Palsu S1 S2 S3


Mungkin terdengar agak basi, tapi saya baru tahu bahwa beberapa waktu lalu pemerintah akhirnya menutup dan mencabut ijin beberapa perguruan tinggi yang terbukti melakukan

tindak jual-beli-buat ijazah palsu.

Apalagi, “komoditas” yang diperjualbelikan umumnya gelar-gelar populer seperti MBA atau PhD. Lihat saja website ini - Beli Ijazah Palsu

Well, sebenarnya, pendidikan di Indonesia (khususnya untuk S3) bisa ditempuh melalui dua jalur, yaitu by course (kuliah) dan by research (penelitian). Istilah ini sebenarnya kurang tepat, sehingga menimbulkan kerancuan seolah-olah pendidikan melalui metode by course seolah tidak perlu melakukan research. Begitu pula sebaliknya.

Menurut prosedur yang berlaku, mereka yang dapat diterima mengikuti pendidikan S3 adalah lulusan S2. Di beberapa universitas ternama di Indonesia, mahasiswa yang diterima hanya sekitar 20%-30% saja dari sejumlah lulusan S2 yang mendaftar. Memang, dalam kasus tertentu, lulusan S1 dengan keistimewaan khusus dapat diterima, tentu saja degan kewajiban yang lebih berat daripada lulusan S2.

Pada akhir masa pendidikan, seluruh mahasiswa S3 harus membuat disertasi. Secara umum disertasi serupa dengan skripsi (S1) dan thesis (S2), yaitu semacam laporan penelitian akademis, tetapi secara teknis terdapat perbedaan yang cukup mendasar di antara ketiganya. Dalam disertasi, sasaran penelitian adalah untuk menciptakan teori baru atau mambantah/mendukung suatu teori atau hasil penelitian orang lain tentang suatu bidang ilmu tertentu. Objek yang diteliti haruslah bersifat makro, dimana secara statistik sampel yang dipilih dapat dianggap mewakili populasi yang akan dikaji.

Sebelum menyusun disertasi, seorang mahasiswa S3 harus melalui berbagai tahapan sebagai berikut:

  1. Pendalaman ilmu yang akan mendukung disertasi yang akan dibuat. Hal ini dapat ditempuh by course atau by research. Proses by course mirip seperti kuliah mahasiswa S1 pada umumnya, dengan penekanan pada diskusi dan presentasi suatu kajian tertentu. Pada akhir kuliah juga dilakukan ujian semester dengan nilai minimal B (nilai C dianggap tdk lulus). Jumlah SKS yang harus diselesaikan berkisar antara 24 sampai 60 SKS (8 s/d 20 mata kuliah), tergantung latar belakang dan jurusan S1/S2 masing-masing.
  2. Sedangkan untuk proses by research, mahasiswa tidak perlu kuliah, tetapi belajar sendiri dengan membaca text book di bawah pengawasan dosen pembimbing yang ditunjuk. Dalam batas waktu tertentu, mahasiswa yang bersangkutan akan diuji penguasaan materinya oleh dosen pembimbing masing-masing. Adapun jumlah SKS yang harus ditempuh hampir sama dengan metode by course, namun umumnya universitas yang menyelenggarakan by research hanya menerima mahasiswa yang berasal dari S1/S2 dengan jurusan yang sama.
  3. Ujian komprehensif yang meliputi aplikasi teoretis bidang ilmu pendukung disertasi, aplikasi teori dalam rancangan disertasi, serta metodologi penelitian (metode penelitian, filsafat ilmu, dan statistik). Mahasiswa yang telah berhasil lulus ujian komprehensif disebut candidate doctor dan baru berhak menyususn proposal disertasi di bawah bimbingan promotor.
  4. Ujian proporsal disertasi. Proporsal disertasi adalah 3 (tiga) bab pertama dari disertasi yang akan dibuat (pendahuluan, kajian teori, dan metodologi penelitian), serta penelitian awal untuk membuktikan bahwa metodologi yang disajikan benar-benar dapat dipergunakan. Ujian tersebut dilakukan di hadapan tiga orang promotor dan 3-5 orang penguji yang kesemuanya bergelar doctor dan 2-3 orang di antaranya harus bergelar guru besar atau professor.

Setelah lulus ujian proporsal disertasi, mahasiswa yang bersangkutan kemudian berhak menyusun disertasi yang dimulai dengan:

  • pengumpulan dan pengolahan data
  • pengujian data dengan alat uji yang sesuai
  • pengujian model-model yang dipakai
  • pengujian hipotesis penelitian
  • penyusunan hasil penelitian dan kesimpulan

Akan tetapi, dalam prakteknya tidak jarang hasil pengujian data dan model-model yang dipakai tidak lagi sesuai dengan proposal sehingga pendahuluan, kajian teori, dan metodologi penelitian harus diubah, dilengkapi, atau ditambah agar tetap sesuai dengan penelitian tersebut. Agar penelitian nantinya tetap berbobot, mahasiswa harus membaca puluhan textbook, jurnal ilmiah, dan working paper yang relevan. Tentu saja sebagian besar hanya tersedia dalam bahasa Inggris saja.

Ujian disertasi sendiri, nantinya akan dilakukan dalam 2 tahap, yaitu:

  1. Ujian naskah disertasi. Umumnya dilakukan secara tertutup di hadapan sekitar 8-12 orang penguji, penelaah, dan promotor, dengan 5 orang di antaranya bergelar guru besar. Di sini promovendus (mahasiswa yang diuji) tidak bisa menjawab pertanyaan secara sembarangan. Semua jawaban harus ada landasan teorinya, atau bisa dibuktikan secara empiris dari hasil penelitian yang telah dilakukan. Biasanya ujian naskah disertasi lantas diakhiri dengan sejumlah koreksi.
  2. Ujian disertasi. Ujian ini dilakukan terbuka di hadapan 8-12 orang penguji, penelaah, dan promotor seperti di atas, plus disaksikan oleh sejumlah mahasiswa S3. Penilaian dibagi dalam 4 kategori, yaitu:
    • summa cum laude, jika penelitian ini menghasilkan teori baru
    • cum laude, jika mengoreksi teori atau pendapat orang lain
    • sangat memuaskan, apabila melengkapi teori atau pendapat orang lain
    • memuaskan, jika hanya membenarkan teori/pendapat orang lain

Nah, dengan proses yang sedemikian rumit, ditambah hambatan waktu dari dosen dan promotor yang harus menangani sejumlah mahasiswa secara sekaligus (akibat rendahnya rasio guru besar terhadap mahasiswa S3), maka sangat jarang pendidikan doktor di Indonesia dapat diselesaikan dalam waktu hanya 2-3 tahun. Umumnya mahasiswa S3 di Indonesia mencapai gelar doktor dalam waktu 5 sampai 7 tahun.

Maka, kalau ada mahasiswa yang mampu menyelesaikan S3 di Indonesia dalam waktu 3 tahun, kemungkinan mahasiswa tersebut memang cerdas, rajin, dan punya cukup waktu dan uang sehingga tidak mengganggu proses belajar meski tidak sedang bekerja (mencari nafkah).

Jadi, agak mustahil jika ada mahasiswa S3 yang mampu menyelesaikan studinya hanya dalam waktu 2-3 tahun jika tidak punya cukup waktu untuk belajar atau melakukan penelitian, betapapun cerdasnya mahasiswa yang bersangkutan. Dan sudah selayaknya jika pemerintah mengambil tindakan tegas bagi universitas-universitas ”gadungan” yang menjualbelikan gelar-gelar semacam itu dengan proses ”studi” hanya dalam tempo 2-3 tahun saja.

Ngapain susah-susah kuliah beli saja Ijazah

Ngapain susah-susah kuliah beli saja Ijazah

Wajah pendidikan kita semakin hari semakin terkuak, kalo beberapa minggu yang lalu kita sempet dikagetkan dengan adanya

ijazah palsu

yang digunakan untuk mendaftar sebagai calon legislatif dan kepala daerah. Sekarang kita bisa tahu kok pemalsuan ijazah bisa terjadi… kenapa?

Mafia Pendidikan - Yah… mafioso sekarang tidak dijulukkan kepada sang DON dari Italia yang notabene adalah seorang GOD Father (heheh), sekarang mafioso juga merambah ke Pendidikan, Peradilan bahkan mau jadi pedagang ASONGAN pun harus bertemu dengan Mafia (Preman Gondes[Godrong Deso])… yang meminta imbalan dengan memberikan shortcut(Jalan pintas) untuk mencapai yang kita inginkan.

Kenapa tho mereka ingin mendapatkan Ijazah itu… Jawabanya adalah

Pertama KEKUASAAN

Sekarang dengan semakin tingginya requirement dari persyaratan untuk mendapatkan jabatan menjadikan orang untuk bisa memutar otak bagaimana bisa mendapatkan Ijazah dengan mudah dan singkat…..

Alasan yang kedua adalah semakin tingginya biaya hidup yang tidak diimbangi dengan
kenaikan gaji karyawan, akibatnya banyak karyawan yang memanfaatkan posisi untuk menyelewengkan wewenang mereka. Tidak hanya itu… Scientist indonesia yang diakui di Dunia sementara ini ada sekitar 6 orang, namun gaji mereka… walah-walah kalah jauh dengan negara tetangga

Alasan yang ketiga adalah MORAL

Masalah Moral adalah masalah klasik di bumi indonesia…. semua lini sudah membudaya. Solusinya sampe sekarang masih belum ditemukan(Kecuali kalo semua dihapus trus diganti baru, oops bukan provokasi revolusi hehehhe). Alasan ini adalah sumbernya… jika Moralnya bagus.. so pasti tidak akan melakukan penyelewengan dan tidak akan terjadi perebutan kekuasaan (sampe-sampe ada blac campaign)

Apakah ada Bukti?

Ngalor ngidul masalah jual beli ijazah… apakah sudah ada buktinya…. berani bilang ini itu so pasti ada buktinya…. Bukan hal rahasia lagi lihat saja situs ini -

Jasa Jual Beli Ijazah S1 S2

Bukan hanya Ijazah.. bahkan BPKB dan STNK dapat dibuat dengan singkat. Oalah indonesia-indonesia oh indonesia ku...

Akhirnya… NGAPAIN SUSAH-SUSAH KULIAH… BELI SAJA IJAZAH…

Padahal… sewaktu saya kuliah dulu…. yg namanya mata kuliah ANALISIS RIIL…. minta ampun susahnya….. dari 40 orang peserta yg ikut kuliah hanya 7 orang yg lulus….. yg salah dosennya atau mahasiswanya…. apalagi TA, sungguh effort yang luar biasa…. membedah ilmu yang sebelumnya ngga dapat diperkuliahan selanjutnya harus dipresentasikan di depan dewan penguji. Theorema dan dalilnya ngga ada di Indonesia, hanya ada di Jurnal yang didapat dari Internet….

PPIA Protes Dikti Soal Penyetaraan Ijazah S1 Australia

PPIA Protes Dikti Soal Penyetaraan Ijazah S1 Australia


Senin, 03 August 2009 12:16 WIB

Brisbane (tvOne) -Perhimpunan Pelajar Indonesia di Australia (PPIA) memprotes kebijakan Ditjen Pendidikan Tinggi (Dikti) RI yang menyetarakan ijazah lulusan sebagian besar program sarjana (S1) perguruan tinggi di Australia dengan diploma tiga (D3) di Indonesia.

Sikap PPIA terhadap Pedoman Penilaian Ijazah Perguruan Tinggi di Australia yang dikeluarkan Dikti RI itu disampaikan Mohamad Fahmi, ketua umum (demisioner) organisasi yang memayungi lebih dari 15 ribu mahasiswa Indonesia di Australia itu, dalam pernyataan persnya yang diterima ANTARA News di Brisbane, Senin.

Fahmi mengatakan, para mahasiswa program sarjana (undergraduate) Indonesia di Australia merasa dirugikan oleh kebijakan Dikti tentang sistem penyetaraan ijazah pendidikan tersebut. "Daftar penyetaraan Dikti ini tidak sesuai dengan prinsip-prinsip kesetaraan dan cenderung asal-asalan," kata mahasiswa program doktor di Universitas La Trobe Melbourne itu.

Kebijakan ini dikeluhkan banyak mahasiswa Indonesia di Australia,

terutama mereka yang setelah lulus ingin bekerja di lembaga pemerintah dan non-pemerintah di dalam negeri yang mengharuskan penyetaraan ijazah oleh Dikti padahal di Australia,

ijazah S1

sudah disetarakan berdasarkan standar "Australian Qualification Framework".

Kualitas lulusan tingkat sarjana yang ditempuh dalam durasi waktu tiga atau empat tahun di Australia itu sebenarnya tidak berbeda dengan tuntutan kualitas program sarjana di Indonesia seperti ditulis Kepmendiknas No. 232/u/2000 Pasal 3, katanya.

"Namun, penyetaraan Dikti menggunakan pukulan waktu empat tahun untuk program S1 mengabaikan ratifikasi Republik Indonesia pada `Regional Convention on Recognition of Studies, Diplomas, and Degrees in Higher Education in Asia Pacific` di Bangkok, 16 Desember 1983," katanya.

PPIA merekomendasikan kepada Dikti agar menyetarakan semua program S1 di Australia yang memenuhi kriteria "Australian Qualification Framework" dengan S1 di Indonesia. Untuk itu, pihaknya mendesak Dikti agar menyisir ulang daftar penyetaraan yang sekarang digunakannya, kata Fahmi.

Hasil penelusuran PPIA mendapati adanya empat universitas non-Australia dimasukkan ke daftar universitas Australia, beberapa program S2 disetarakan dengan S3, beberapa program S3 disetarakan dengan S2, serta sejumlah kesalahan lainnya, kata dosen Universitas Padjadjaran ini.

"Rekomendasi PPI Australia ini mewakili suara lebih dari lima belas ribu orang pelajar Indonesia di Australia. Sepatutnya Dikti membuka mata dengan realitas ini. Untuk ke depan secepatnya dilakukan perbaikan dalam sistem penyetaraan ijazah pendidikan yg ada," katanya.

Monday, August 10, 2009

Beli Ijazah Palsu, Asli Lagi

Beli Ijazah Palsu, Asli Lagi


Kasus ijazah palsu kembali marak dengan terkuaknya modus jual-beli ijazah yang dilakukan oleh Institute Managemenent Global Indonesia (IMGI) sekitar akhir Juli 2005 lalu. Tidak tanggung-tanggung, sekitar 5.000 ijazah palsu telah dikeluarkan oleh lembaga yang mengaku berafiliasi dengan universitas di Amerika Serikat ini. Lucunya, ada pejabat, polisi, direksi BUMN telah memanfaatkan jasa lembaga ini untuk memperoleh gelar Sarjana, Master, sampai Doktor dengan hanya membayar jutaan rupiah.


Ah, semua ini kan sudah menjadi potret wajah kita. Urusan palsu atau palsu tapi asli atau sebaliknya asli tapi palsu selalu ada di sekitar kita. Dalam kehidupan sehari-hari memang demikian adanya. Siapa yang mau bicara, apakah politisi yang bergaya suci, seniman yang bergaya seperti pendakwah agama, atau malah agamawan yang harusnya penuh kejujuran juga banyak palsunya.


Jadi, mengutip kata Kang Sobari, sebenarnya kita ini bunglon yang manusia atau memang kita bunglonnya? Makanya, saat mantan Pimred Antara itu bilang, saat keluar rumah dan bertemu bunglon di jalan dia sempat disapa, “Bapak manusia apa Bunglon,”. Ah dan Kang Sobari pun tersenyum tidak tahu jawabnya.

Saturday, August 8, 2009

QS.com Asian University Rankings 2009 - Top 200 Asia Universities

QS.com Asian University Rankings 2009 - Top 200 Asia Universities
































































































































































































































































































































































































































































































2009 rankSchool NameCountry

Source: QS Quacquarelli Symonds (www.qs.com)


Copyright © 2004-2009 QS Quacquarelli Symonds Ltd.

Click here for copyright and limitations on use.



1
University of HONG KONGHong Kong

2
The CHINESE University of Hong KongHong Kong

3
University of TOKYOJapan

4
HONG KONG University of Science and Tech...Hong Kong

5
KYOTO UniversityJapan


6
OSAKA UniversityJapan

7
KAIST - Korea Advanced Institute of Scie...Korea, South

8
SEOUL National UniversityKorea, South

9
TOKYO Institute of TechnologyJapan

10=
National University of Singapore (NUS)Singapore


10=
PEKING UniversityChina

12
NAGOYA UniversityJapan

13
TOHOKU UniversityJapan

14
Nanyang Technological University (NTU)Singapore

15=
KYUSHU UniversityJapan


15=
TSINGHUA UniversityChina

17
Pohang University of Science and Technol...Korea, South

18
CITY University of Hong KongHong Kong

19
University of TSUKUBAJapan

20=
HOKKAIDO UniversityJapan


20=
KEIO UniversityJapan

22
National TAIWAN UniversityTaiwan

23
KOBE UniversityJapan

24
University of Science and Technology of ...China

25
YONSEI UniversityKorea, South


26
FUDAN UniversityChina

27
NANJING UniversityChina

28
HIROSHIMA UniversityJapan

29
SHANGHAI JIAO TONG UniversityChina

30=
Indian Institute of Technology Bombay (I...India


30=
MAHIDOL UniversityThailand

32
ZHEJIANG UniversityChina

33
KOREA UniversityKorea, South

34
Indian Institute of Technology Kanpur (I...India

35
CHULALONGKORN UniversityThailand


36
Indian Institute of Technology Delhi (II...India

37
WASEDA UniversityJapan

38
The HONG KONG Polytechnic UniversityHong Kong

39
Universiti Malaya (UM)Malaysia

40
National TSING HUA UniversityTaiwan


41
CHIBA UniversityJapan

42
EWHA WOMANS UniversityKorea, South

43
National CHENG KUNG UniversityTaiwan

44
SUNGKYUNKWAN UniversityKorea, South

45
NAGASAKI UniversityJapan


46
HANYANG UniversityKorea, South

47
National YANG MING UniversityTaiwan

48
TOKYO Metropolitan UniversityJapan

49
Indian Institute of Technology Madras (I...India

50
University of INDONESIAIndonesia


51
Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM)Malaysia

52
SHOWA UniversityJapan

53
KUMAMOTO UniversityJapan

54
YOKOHAMA NATIONAL UniversityJapan

55
YOKOHAMA CITY UniversityJapan


56
OKAYAMA UniversityJapan

57
KYUNG HEE UniversityKorea, South

58
PUSAN National UniversityKorea, South

59
GIFU UniversityJapan

60
University of DELHIIndia


61
SOGANG UniversityKorea, South

62
KANAZAWA UniversityJapan

63=
Indian Institute of Technology Roorkee (...India

63=
OSAKA CITY UniversityJapan

63=
Universitas GADJAH MADAIndonesia


63=
University of the PHILIPPINESPhilippines

67
TOKYO University of Science (TUS) Japan

68
GUNMA UniversityJapan

69
Universiti Sains Malaysia (USM)Malaysia

70
TIANJIN UniversityChina


71
National SUN YAT-SEN UniversityTaiwan

72
National TAIWAN University of Science an...Taiwan

73
Hong Kong BAPTIST UniversityHong Kong

74
National CHIAO TUNG UniversityTaiwan

75
XI'AN JIAOTONG UniversityChina


76
DE LA SALLE UniversityPhilippines

77
National CENTRAL UniversityTaiwan

78
NIIGATA UniversityJapan

79
OCHANOMIZU UniversityJapan

80
BANDUNG Institute of Technology (ITB)Indonesia


81
CHIANG MAI UniversityThailand

82=
KYUNGPOOK National UniversityKorea, South

82=
Universiti Teknologi Malaysia (UTM)Malaysia

84
Ateneo de MANILA UniversityPhilippines

85
THAMMASAT UniversityThailand


86
TOKAI UniversityJapan

87
MIE UniversityJapan

88
CHONNAM National UniversityKorea, South

89
KAGOSHIMA UniversityJapan

90
Universiti Putra Malaysia (UPM)Malaysia


91
CHANG GUNG UniversityTaiwan

92
INHA UniversityKorea, South

93
TOKYO University of Agriculture and Tech...Japan

94
TONGJI UniversityChina

95
SOUTHEAST UniversityChina


96
HITOTSUBASHI UniversityJapan

97
CHONBUK National UniversityKorea, South

98
AJOU University Korea, South

99
CHUNGNAM National UniversityKorea, South

100
University of PUNEIndia

Degrees scam (Ijazah Palsu)

Degrees scam: Indonesia and Malaysia among buyers of fake degrees

HONG KONG, Oct 4 — It was the largest case of degree fraud in America, perhaps the world. The investigation into St Regis University, a huge degree mill, ended in jail sentences for its "founders" and some employees in July, and has cast light on the lengths to which sellers of dodgy degrees will go to ensnare people in their web of deceit.

St Regis' tentacles spread around the globe, with clients across Europe, Russia, the Middle East and Asia, including Hong Kong.

"This was an eight-agency federal criminal prosecution, involving more than 100 countries,

66 real universitas known to have had their degrees counterfeited

and 150 separate bogus institutions set up by the perpetrators," said George Gollin, professor of physics at the University of Illinois. He had been monitoring the degree mill since 2002 and passed on a great deal of information to investigators that led to the convictions.

"It is the first case of its kind where we have so much information, so we have an extensive profile of how they operated internationally," he said.

A statement from the US Department of Justice said St Regis' customers included teachers, psychologists, engineers and at least one college president. "Many were shipped abroad. The annual degree output from St Regis was about the same as a medium-sized American university," it said.

Investigators calculated that the organisers netted at least US$7.3 million (RM25 million) from the sales.

"It was the most sophisticated degree mill because they had 125 different websites of high [secondary] schools, colleges, accredited entities, degree transcript storage and credential evaluation companies," said Allen Ezell, a former FBI agent who has investigated degree mills.

"We now have a better insight into how big this was and how many sales were in the various countries and the type of degrees in demand."

According to documents unearthed by federal investigators, some 30 Hong Kong people wittingly or unwittingly acquired fake degrees, although several Hong Kong individuals bought more than one degree in the space of a very short period, suggesting they knew very well what they were doing.

Although the vast majority of degrees — more than 9,000 — were sold in the US, large numbers were sold to Britain, Canada, India and Germany. Indonesia was the 15th largest buyer for fake degrees among 130 states and territories, just behind Malaysia, Singapore and Pakistan.

However, it was the large number of Middle Eastern buyers that first attracted the attention of the US Department of Homeland Security because of fears the degrees might be used to gain admission to US higher degree programmes, or for immigration purposes.

The most popular were degrees in business administration, "because it can be universally applied in all forms in the workplace", Ezell said.

"But they even operated St Luke's Medical School — they put MDs out there on the street. These were medical degrees that were not just to hang on the wall, they were going to use them."

Of 29 degrees known to have been shipped to Hong Kong, almost a third were business degrees, including doctorates, according to court papers.

The degree mill operated from the late 1990s until 2005 when the ringleaders, Steve Randock and his wife Dixie Randock, their daughter, daughter-in-law and four others were indicted on charges that included mail and wire fraud, money laundering and bribery of foreign officials.

All eight chose to plead guilty rather than face a jury trial. In July, Dixie Randock, a secondary school dropout, was sentenced to three years in prison after the three-year investigation involving thousands of documents and seized computer records.

Most of the sales were carried out by Internet spam, court documents said, with Dixie Randock buying up e-mail address lists. On one occasion she included an offer to "buy one degree at full price and get a second degree free".

Roberta Markishtum, jailed for four months, was Dixie Randock's former daughter-in-law, who worked as a printer, providing the diplomas complete with seals and fictitious signatures. Using the name Jennifer Green, she also answered the phone at the operation's "official transcript record centre", verifying the authenticity of degrees for employers who thought they were calling an office in Washington, court documents said.

While the Randocks have been jailed, some of their overseas associates are beyond the US courts' jurisdiction.

At one point St Regis had "deans of studies" based in Hong Kong and Athens. One-time "dean of studies" for the "St Regis School of Business" was "professor" Steve Ho based in Hong Kong.

Ho also cropped up as "dean of studies" for the bogus "St Regis School of Martial Arts", among other things purporting to teach martial arts by distance learning using "streaming video displays".

Investigators found e-mails between Ho and St Regis defendants confirming that degrees had been sent to Hong Kong. "It is clear from the material unearthed, that Ho was a significant party," Gollin said.

Some overseas associates have run their own businesses, which combine degrees from real institutions with those from bogus ones, including St Regis, further muddying the waters. Some investigators fear that through such combinations the degree mill operators may have infiltrated genuine bodies, including accrediting organisations.

There is also evidence that degree mills had been able to pay bribes to government officials in order to get accreditation papers.

"St Regis is the first degree mill I have seen where they have got inside the department of education of another government," Ezell said.

The investigation revealed that a high-level Liberian diplomat based in Washington had solicited cash bribes in return for providing Liberian accreditation for St Regis and other diploma mills.

Ezell said the operation was "very good at surgery". "A photo showing one St Regis campus was actually a picture of Blenheim Palace in England, birthplace of Winston Churchill.

"The faculty portraits showed that heads of Africans had been grafted on to the body of white men, they were black faces with white necks."

In July 2005, US agents staged a sting in a meeting with St Regis officials, posing as investors looking to purchase accreditation for universities.

The agents secretly taped Abdullah Dunbar, who was the Liberian embassy's deputy chief of mission, demanding US$5,000 and a paid trip to Liberia to finalise accreditation for the fictitious university. A month later the authorities raided offices in Arizona, Idaho and Washington state, confiscating computers and degree-printing equipment.

The main perpetrators have been brought to justice, but Gollin said he believed unscrupulous former overseas associates of the degree mill could well be using similar methods to continue selling bogus degrees worldwide from non-US bases. —Article picked from Beli Ijazah S1-S2 Palsu Pascasarjana Murah Dan Cepat | beli-ijazah.webs.com

Friday, August 7, 2009

United States (AMERICA) Universities visit to UI

U.S. Universities Visit to UI

Posted by admin on 2009-07-31 16:17:02

Universitas Indonesia (UI) and U.S. Educator Delegation held a roundtable discussion on strategic partnership in the Senate Room, UI Building Administration Center, Depok on Tuesday, July 28, 2009. The purpose of this visit is to strengthen comprehensive partnership between UI and universities in U.S. The event wasopened by Rector of Universitas Indonesia Prof. Dr. der Soz. Drs. Gumilar Rusliwa Somantri followed by a remarks from President of the United States-Indonesia Society (USINDO) Ambassador David Merril.

The discussion were well attended by U.S. 4 Presidents: President Iowa State University Dr. Gregory L. Geoffroy, President and CEO of the Institute of International Education Dr. Allan Goodman, President of the United States-Indonesia Society (USINDO) Ambassador David Merrill, and President of the East-West Center Dr. Charles E. Morrison, 3 senior advisors: Director of Education at the East-West Center Dr. Terance Bigalke, Director of Asian Studies and C.V. Starr Distinguished Professor of Southeast Asian Studies at Johns Hopkins-SAIS Dr. Karl Jackson, Deputy Assistant Secretary of State for Academic Programs at the Bureau of Education and Cultural Affairs, U. S. Department of State Dr. Alina Romanowski. Together with them are 13 representatives from university: Cornell University, Highline Community College, North Seattle Community College, Lehigh University, Northern Illinois University, Susquehanna University, University at Buffalo, University of Southern Carolina, University of Washington, University of Michigan, and University of Carolina System.

Paragita UI choir which got two awards winning on International Choir Festival, The 46th International Choir Festival 2009 in Spittal, Austria, entertained the guests while they were having lunch. Besides that, UI Dance League also performed a Betawi traditional dance “Renggong Manis Dance”.

Having listened to presentation about UI’s history and future development by Dr. Bachtiar Alam, Director of Research and Community Services, the delegations met Deans and Senior Officers of UI to discuss areas of interest and forms of collaboration. The discussants letter agree to promote staff and student exchange for master and doctoral program, student internship program in Earning Credit for Faculty of Engineering and the delegations dispatch in each study program for humanities, traditions, linguistics, and American Studies. The program was concluded with a campus tour.

Pendaftaran Wisuda Universitas Indonesia

Pendaftaran Wisuda Universitas Indonesia

Wisuda UI semester Genap 2008/2009 akan diselenggarakan pada tanggal 27, 28 dan 29 Agustus 2009. Mengingat pelaksanaan wisuda bertepatan dengan bulan Puasa, maka semua wisuda dilaksanakan pagi hari, dengan jadwal sebagai berikut:

  • Kamis, 27 Agustus 2009 (Pk. 09.00 s/d 11.00 WIB) untuk Program Sarjana (Reguler, Ekstensi & Kelas Internasional)
  • Jum'at, 28 Agustus 2009 (Pk. 09.00 s/d 11.00 WIB) untuk Program Diploma
  • Sabtu, 29 Agustus 2009 (Pk. 09.00 s/d 11.00 WIB) untuk Program Profesi, Spesialis, Magister & Doktor.

Jadwal Foto Resmi pemberian selamat dari Rektor dan Dekan kepada Wisudawan sekaligus Gladi Resik Wisuda:

  • Senin, 24 Agustus 2009 (Pk. 14.00 WIB) untuk Program Diploma
  • Selasa, 25 Agustus 2009 (Pk. 14.00 WIB) untuk Program Profesi, Spesialis, Magister & Doktor
  • Rabu, 26 Agustus 2009 (Pk. 14.00 WIB) untuk Program Sarjana (Reguler, Ekstensi & Kelas Internasional)

Pendaftaran

Untuk melakukan pendaftaran klik menu Daftar Wisuda yang ada di menu sebelah kiri. Atau klik di sini

Untuk melihat Panduan Pendaftaran silahkan klik di sini

Biaya Wisuda

  • Sarjana dan Diploma : Rp. 375.000,-
  • Profesi, Magister, Pasca dan Doktor : Rp. 425.000,-
Pembayaran tersebut sudah paket.

Paket yang didapatkan oleh calon wisudawan

  • Toga Wisudawan
  • Buku Alumni
  • Foto Resmi Ucapan selamat dari Rektor dan Dekan kepada wisudawan
  • "PIAGAM ALUMNI"
  • Account untuk Email Alumni (nama@alumni.ui.ac.id)
  • Undangan :
    • 1 Undangan untuk Wisudawan
    • 1 Undangan untuk keluarga Wisudawan (berlaku 2 orang)

Info lebih lanjut hubungi:

PANITIA WISUDA-DIREKTORAT HUBUNGAN ALUMNI

  • Emri dan Ida 021-7867222 Ext. 100040
  • Mury 021-94359525
  • Erwin 08129255180

Beasiswa Bantuan Program Pasca Sarjana (BPPS) untuk DOSEN PNS

Beasiswa Bantuan Program Pasca Sarjana (BPPS) Ditjen Pendidikan Tinggi (Dikti) atau dikenal dengan beasiswa BPPS ditujukan bagi dosen atau tenaga pengajar yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) untuk program pasca sarjana.

BPPS Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi hanya diberikan kepada dosen yang mengikuti pendidikan pascasarjana, baik magister (S2) maupun doktor (S3), pada program studi yang diselenggarakan secara reguler dan telah memperoleh akreditasi pada jalur akademik oleh Badan Akreditasi Nasional Pendidikan Tinggi (BAN-PT).

Program studi yang akan dipertimbangkan untuk mendapatkan prioritas dalam seleksi calon penerima BPPS adalah program studi dalam bidang ilmu yang yang memiliki nilai strategis bagi pembangunan nasional, seperti: teknologi, MIPA, pertanian, sosial dan ekonomi, kesehatan dan pendidikan.

Pada tahun 2009 jumlah BPPS mahasiswa baru untuk S2 sebanyak 5.500 orang, sedangkan untuk S3 sebanyak 2.000 orang. Total 7500 alokasi beasiswa BPPS 2009. Pengalokasian Distribusi BPPS tersebut dibagi menjadi dua bagian, yaitu :

  1. Dialokasikan kepada Program Pascasarjana PTN/PTS yang memenuhi syarat. Cara ini sama dengan pola yang selama ini berjalan.
  2. Dialokasikan kepada PTN dan PTS pemilik dosen (dikordinasi oleh Kopertis).

Persyaratan Umum penerima beasiswa BPPS Dikti antara lain:

  1. Beasiswa Pendidikan Pascasarjana (BPPS) Ditjen Pendidikan Tinggi pada saat ini hanya diperuntukkan bagi dosen Perguruan Tinggi Negeri, dosen Perguruan Tinggi Swasta (Dosen PNS Dpk, dosen Tetap Yayasan yang telah mempunyai NIK Yayasan serta telah memiliki angka kredit jabatan akademik dosen minimal Asisten Ahli 100), dan sebagian dosen IAIN/STAIN yang berstatus PNS yang mengikuti program S2
  2. Dosen PNS yang berasal dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Sunan Gunung Jati Bandung, Sunan Kalijaga Yogyakarta, Alauddin Makassar, Sultan Syarif Qasim Pekanbaru dan Universitas Islam Negeri Malang yang sudah berubah status kelembagaannya dari IAIN/STAIN, dapat diusulkan sebagai peserta S3 calon penerima BPPS
  3. Permohonan untuk memperoleh BPPS Ditjen Pendidikan Tinggi harus mendapat persetujuan dan diajukan oleh Rektor/Ketua Perguruan Tinggi asal kepada Direktur Program Pascasarjana yang dituju. Khusus peserta yang berasal dari PTS, persetujuan dan usulan BPPS tersebut harus direkomendasi oleh pihak Kopertis Wilayah asal perguruan tinggi peserta

Pendaftaran Calon Penerima Beasiswa
Penyaringan dalam penerimaan calon penerima program Beasiswa BPPS dilakukan berdasar pada:

  1. Prestasi akademik selama menempuh pendidikan program sarjana
  2. Keterkaitan bidang ilmu program S2 yang ditempuh dengan bidang ilmu S1-nya dan atau bidang ilmu program S3 yang ditempuh dengan bidang ilmu program S1/S2 dari peserta.
  3. Tempat yang tersedia.

Informasi pendaftaran dan persyaratan lebih detail hubungi bagian kemahsiswaan di masing-masing Perguruan Tinggi Negeri.

Contoh Ijazah Untar Transkrip Untar




Anda butuh ijazah s1? pascasarjana? silakan ke Kuliah Kilat Online - beli-ijazah.webs.com

Kaplan University

Kaplan University was founded in 1937. It is an institution of higher learning dedicated to providing innovative undergraduate, graduate, and continuing professional education. Kaplan University is a part of Kaplan Higher Education Corp., which is a part of Kaplan, Inc., a subsidiary of The Washington Post Company.

Kaplan University Mission

To foster student learning with opportunities to launch, enhance, or change careers in today's diverse global society.

Kaplan University Accreditation

Kaplan University is accredited by The Higher Learning Commission (HLC) and a member of the North Central Association of Colleges and Schools (NCA).

Why Kaplan University?

Kaplan University is a proven smart choice for working adults.

  • It provides online flexibility to students to access the course material at anytime and from anywhere in the world.
  • The personal attention of a campus-based experience is its highlight.
  • Reduced costs is another benefit that students enjoy while learning online.
  • Kaplan University offers various financial aids to students to make their education affordable.
View Kaplan University Photos.

Kaplan University Address

Kaplan University has multiple campuses.

Kaplan Campuses in Iowa

  1. Davenport Campus (This is the main campus of Kaplan University)
    1801 East Kimberly Road, Suite 1
    Davenport, IA 52807
    Tel: 563.355.3500
    Tel: 800.662.4532 (Toll Free)
  2. Cedar Falls Campus
    7009 Nordic Drive
    Cedar Falls, IA 50613
    Tel: 319.277.0220
    Tel: 800.662.4532 (Toll Free)
  3. Cedar Rapids Campus
    3165 Edgewood Parkway, SW
    Cedar Rapids, IA 52404
    Tel: 319.363.0481
    Tel: 800.662.4532 (Toll Free)
  4. Council Bluffs Campus
    1751 Madison Avenue, Suite 750
    Council Bluffs, IA 51503
    Tel: 712.328.4212
    Tel: 800.662.4532 (Toll Free)
  5. Des Moines Campus
    4655 121st Street
    Des Moines, IA 50323
    Tel: 515.727.2100
    Tel: 800.662.4532 (Toll Free)
  6. Mason City Campus
    Plaza West, 2570 Fourth Street, SW
    Mason City, IA 50401
    Tel: 800.662.4532 (Toll Free)
    Tel: 641.423.2530

Kaplan Campuses in Nebraska

  1. Lincoln Campus
    1821 K Street
    Lincoln, NE 68508
    Tel: 402.474.5315
    Tel: 800.662.4532 (Toll Free)
  2. Omaha Campus
    Omaha Campus
    5425 North 103rd Street
    Omaha, NE 68134
    Tel : 402.572.8500
    Tel: 800.662.4532 (Toll Free)

Kopertis DIY Tindak Tegas PTS Jual Ijazah

Kopertis DIY Tindak Tegas PTS Jual Ijazah

Yogyakarta (ANTARA News) - Koordinator Kopertis Wilayah V Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Prof Dr Budi Wignyosukarto mengatakan, pihaknya akan menindak tegas perguruan tinggi swasta (PTS) yang diduga melakukan praktik jual-beli ijazah dengan mengeluarkan ijazah secara ilegal.

"Tindakan tegas tersebut diberlakukan agar kejadian itu tidak terulang kembali.
Selain itu,sebagai peringatan kepada PTS lain agar tidak melakukan praktik semacam itu. Jadi, Kami akan memberikan sanksi kepada PTS yang melakukan praktik jual-beli ijazah," katanya di Yogyakarta, Sabtu.

Ia mengatakan,khusus bagi PTS di daerah ini yang diduga mengelaurkan ijazah ilegal, diminta agar mereka bersedia menarik kembali ijazah yang sudah beredar tersebut.

"Memang diduga ijazah ilegal yang beredar di masyarakat mencapai sekitar 1.500 lembar yang dikeluarkan hanya dari salah satu PTS saja. Namun, jumlah
itu diperkirakan masih lebih banyak lagi, karena ditengarai ada beberapa PTS yang melakukan praktik serupa yaitu menjual ijazah ilegal," katanya.

Menurut dia, para pengelola PTS yang diduga menjual ijazah itu,harus menarik ijazah ilegal yang sudah terlanjur dikeluarkan. Penarikan kembali ijazah ilegal tersebut dimaksudkan sebagai bentuk pertanggungjawaban kepada masyarakat, karena praktik itu tidak dibenarkan.

Dalam ijazah ilegal nilai terkahir yang dikeluarkan tidak sesuai dengan mata kuliah yang ditempuh pemilik ijazah. Padahal nilai
itu merupakan kompetensi dari ijazah yang mereka peroleh dari mengkuti mata kuliah.

"Saya menduga pratik pembuatan ijazah ilegal sudah berlangsung lama dan kemungkinannya sejak diberlakukan otonomi perguruan tinggi. Sebab dengan otonomi itu sejumlah PTS diduga melakukan praktik jual beli ijazah tersebut," katanya.(*)

Universitas-Kuliah Online, Ijazah Palsu, Kuliah Minggu-Cepat-Instan, Beli-Buat Ijazah: http://showbiz.liputan6.com/berita/200803/227348/Ijazah.dan.Karier.Artis

Universitas-Kuliah Online, Ijazah Palsu, Kuliah Minggu-Cepat-Instan, Beli-Buat Ijazah: http://showbiz.liputan6.com/berita/200803/227348/Ijazah.dan.Karier.Artis

Ijazah Dan Artis

Ijazah dan Karier Artis

00/00/0000 00:00 |

GELAR sarjana dan kesuksesan berkarier di dunia entertainment dimiliki Intan Nuraini dan Dhini Aminarti. Namun ijazah Intan Nuraini (Sarjana Sastra) dan Dhini Aminarti (Sarjana Psikologi) belum juga digunakan alias basi di lemari. Karier yang ditekuni justru bukan di bidangnya. "Ijazah sampai sekarang cuma sebagai penghias lemari," kata Intan, belum lama berselang. Intan cuma bercanda. Menurut dia, ijazahnya akan berguna suatu saat kelak. "Masuk dunia entertainment lebih dihargai jika mereka punya gelar sarjana," kata wanita kelahiran Jakarta, 23 Maret 1985. Sementara Dhini mengatakan akan menggunakan ijazahnya bila datang saat yang tepat. "Aku senang saja karena mau buka tempat praktik. Masak buka praktik nggak sekolah," ujar wanita kelahiran Jakarta, 29 Mei 1983.